Artikel
Struktur
Organisasi Dan Implementasi Dalam Perusahaan Bisnis
Definisi menurut para
pakar : Menurut Herbert A. Simon, Donald W. Smithburg, dan Victor A. Thompson ,
Organisasi adalah suatu sistem terencana mengenai usaha kerjasama dalam mana
setiap peserta mempunyai peranan yang diakui untuk dijalankan dan kewajiban-kewajiban
atau tugas-tugas untuk dilaksanakan. Ada beberapa bagian dari organisasi, yaitu
:
1.
The Operating Core. Yang termasuk disini
adalah para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan
produksi barang dan jasa.
2. The Strategic Apex. Yang termasuk di dalam bagian ini adalah manajer tingkat
puncak (top management).
3. The Middle Line. Yang termasuk di dalam bagian ini adalah para manajer yang
menjembatani manajer tingkat atas dengan bagian operasional
4. The Technostructure. Yang termasuk dalam bagian ini adalah mereka yang
diserahi tugas untuk menganalisa dan bertanggung jawab terhadap bentuk
standarisasi dalam organisasi.
5. The Support Staff. Yang termasuk disini adalah orang-orang yang memberi jasa
pendukung tidak langsung terhadap organisasi ( orang-orang yang mengisi unit
staff).
Struktur adalah hubungan antara macam-macam fungsi atau aktivitas di dalam
organisasi . Struktur organisasi adalah hubungan antar para pegawai dan
aktivitas-aktivitas mereka satu sama lain serta terhadap keseluruhan, di mana
bagian-bagiannya adalah tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan atau fungsi-fungsi dan
masing-masing anggota kelompok pegawai yang melaksanakannya.
Struktur organisasi yang akan dibentuk tentunya struktur organisasi yang baik.
Struktur organisasi yang baik harus memenuhi syarat sehat dan efisien. Struktur
organisasi sehat berarti tiap-tiap satuan organisasi yang ada dapat menjalankan
peranannya dengan tertib. Struktur organisasi efisien berarti dalam menjalankan
peranannya tersebut masing-masig satuan organisasi dapat mencapai perbandingan
terbaik antara usaha dan hasil kerja.
II. 2 Elemen Utama
Struktur Organisasi
II. 2. 1 Kompleksitas
Kompleksitas struktur menggambarkan derajat diferensiasi dalam suatu
organisasi, baik diferensiasi horizontal, vertikal, maupun spasial.
1. Diferensiasi Horizontal
Penyebab terjadinya diferensiasi horizontal adalah berkembangnya beragam unit
dalam organisasi berdasarkan orientasi pekerjaan, sifat tugas-tugas di
dalamnya, serta latar pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas tersebut. Ketika organisasi membutuhkan unit-unit yang
beragam untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan organisasi, pada saat itu pula terjadi diferensiasi
horizontal.
Bentuk spesialisasi ada dua, yaitu spesialisasi fungsional dan spesialisasi
sosial. Spesialisasi fungsional dilakukan dengan cara memecah-mecah pekerjaan
menjadi tugas-tugas sederhana. Jadi, yang dispesialisasi adalah pekerjaannya.
Contohnya, pekerjaan merakit mobil dipecah-pecah menjadi rangkaian pekerjaan
yang lebih sederhana, dan masing-masing dikerjakan oleh orang yang berbeda.
Sebaliknya, spesialisasi sosial merujuk pada spesialisasi orang. Artinya,
organisasi merekrut seseorang yang ahli untuk melakukan jenis-jenis pekerjaan
tertentu yang bersifat khusus. Misalnya, menggunakan analisis pasar untuk
mengamati dan membuat prediksi perkembangan pasar.
2. Diferensiasi Vertikal
Diferensiasi horizontal dan vertikal sebenarnya berhubungan erat. Meningkatnya
diferensiasi horizontal biasanya selalu dibarengi dengan kebutuhan untuk
mengontrol aktivitas yang kian beragam. Organisasi kemudian menambah lapisan
pengawas atau supervisor (untuk mengawasi lapisan pekerja) atau manajer (untuk
mengawasi supervisor atau manajer level bawah). Hal ini dengan sendirinya
menambah diferensiasi vertikal. Jadi, diferensiasi vertikal adalah gambaran
dari lapisan-lapisan hierarki dalam organisasi.
3. Diferensiasi Spasial
Diferensiasi spasial menggambarkan sejauh mana fasilitas dan personel
organisasi tersebut secara geografis. Organisasi yang memiliki sejumlah kantor
dan/atau personal yang tersebar dalam rentang geografis yang luas, tentunya
akana menghadapi kompleksitas yang lebih tinggi daripada organisasi yang hanya
berpusat pada satu atau beberapa lokasi.
II. 2. 2 Formalisasi
Formalisasi dalam organisasi sebenarnya dapat dilakukan dengan dua pola yaitu
melalui aturan, prosedur, dan sanksi-sanksi regulatif yang disusun oleh
pengelola organisasi, atau melalui rekrutmen terhadap tenaga-tenaga profesional
yang telah terdidik dengan nilai-nilai, norma-norma, dan pola perilaku sesuai
profesi mereka.
II. 2. 3 Sentralisasi
Senralisasi adalah sejauh mana otoritas formal untuk membuat pilihan-pilihan
bebas terkonsentrasi ada seseorang, sebuah unit, atau suatu level, sedemikian
rupa sehingga para pegawai hanya dimungkinkan memberikan input seminimal
mungkin dalam pekerjaan. Sentralisasi kadang-kadang terkait juga dengan masalah
kecenderungan personal. Hal ini terutama pada perusahaan-perusahaan yang
dikelola oleh pemiliknya sendiri. Ketika ukuran organisasi semakin besar dan
menuntut pendelegasian keputusan yang lebih banyak, tidak jarang pemilik
sekaligus pengelola tersebut merasa enggan.
II. 3 Fungsi atau
Kegunaan Struktur dalam Organisasi
1. Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab
dan apa yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap anggota organisasi harus
bertanggung jawab kepada pimpinan atau atasan yang memberikan kewenangan,
karena pelaksanaan kewenangan itu yang harus dipertanggungjawabkan.
2. Kejelasan Kedudukan. Kejelasan kedudukan seseorang dalam struktur
organsisasi sebenarnya mempermudah dalam melakukan koordinasi maupun hubungan
karena adanya keterkaitan penyelesaian suatu fungsi yang dipercayakan kepada
seseorang.
3. Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan uraian tugas dalam struktur organisasi
sangat membantu pihak pimpinan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian, dan
bagi bawahan akan dapat berkonsentrasi dalam melaksanakan suatu pekerjaan
karena uraiannya yang jelas.
II. 4 Bentuk-Bentuk Struktur Organisasi
II. 4. 1 Struktur Garis (Sederhana)
Organisasi bentuk garis di ciptakan oleh Henry Fayol. Pada struktur organisasi
ini, wewenang dari atasan disalurkan secara vertikal kepada bawahan. Begitu juga
sebaliknya, pertanggungjawaban dari bawahan secara langsung di tujukan kepada
ataan yang memberi perintah. Umumnya organisasi yang memakai struktur ini
adalah organisasi yang masih kecil, jumlah karyawannya sedikit dan spesialisasi
kerjanya masih sederhana.
Ciri-Ciri. Kesatuan perintah terjamin. Pembagian kerja jelas dan mudah
dilaksanakan. Organisasi tergantung pada satu pimpinan. Ruang lingkup
Organisasinya lebih kecil dan jumlah anggota juga sedikit. Hubungan kerja
antara atasan dan bawahan bersifat langsung. Tujuan alat-alat yang digunakan
dan struktur organisasi bersifat sederhana. Tingkat spesialisasi yang
dibutuhkan masih sangat rendah. Semua anggota organisasi masih kenal antara
satu sama lainnya. Produksi yang dihasilkan belum beraneka ragam (defersified).
Kelebihan struktur garis. Karyawan akan lebih menyadari tugas, tanggung jawab,
dan pekerjaan yang diembannya, karena struktur ini lebih mudah dimengerti.
Struktur ini juga menjadikan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat
karena tidak ada halangan birokrasi. Biaya-biaya yang berkaitan dengan
koordinasi dan kontrol biasanya relatif kecil.
Kekurangan struktur garis. Kurang fleksibel dalam menyediakan spesialisasi yang
dibutuhkan ketika perusahaan menjadi lebih luas dan kompleks. Tugas karyawan
yang terbatas sejak awal menghalangi mereka mendapatkan pengalaman yang
dibutuhkan untuk meningkat ke posisi manajerial.
II. 4. 2 Struktur Fungsional
Struktur organisasi fungsional diciptakan oleh F. W. Taylor. Struktur ini
berawal dari konsep adanya pimpinan yang tidak mempunyai bawahan yang jelas dan
setiap atasan mempunyai wewenang memberi perintah kepada setiap bawahan,
sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut. Setiap pegawai
mempunyai pengawas lebih dari satu orang atasan yang berberda-beda.
Struktur ini banyak ditemukan pada organisasi atau perusahaan area spesialisasi
sebagai dasar eksistensi sebuah departemen. Struktur ini lazim ditemukan pada
perusahaan kecil dan menengah, yang memusatkan pengambilan keputusan pada
tingkat tertinggi dari perusahaan.
Ciri-ciri. Tidak menjamin adanya kesatuan perintah. Keahlian para pengawas dan
pegawai berkembang menuju spesialisasi. Penghematan waktu dapat dilakukan
karena mengerjakan pekerjaan yang sama.
Kelebihan struktur fungsional. Keahlian yang dimiliki oleh seorang spesialis
fungsional. Keahlian ini memudahkan mereka dalam memecahkan masalah yang
terjadi pada area tertentu yang berada di bawah wewenangnya. Menghindari
duplikasi, di mana struktur ini tidak terdapat fungsi yang berganda atau redundant,
sehingga sumber daya organisasi dapat dipergunakan lebih efisien dan terfokus.
Kelemahan struktur fungsional. Kebingungan yang terjadi ketika karyawan
memiliki dua atau lebih supervisor. Kekurangan lain yaitu kemungkinan manajer
untuk menghindari area yang mereka wewenangi secara fungsional, situasi yang
mungkin berdampak negatif bagi koordinasi aktivitas tertentu.
II. 4. 3 Struktur Staff
Organisasi dalam bentuk staff yang mempunyai hubungan dengan pucuk pimpinan.
Berfungsi memberikan bantuan baik berupa pikiran maupun bantuan lain demi
kelancaran tugas pimpinan dalam mencapai tujuan secara keseluruhan. Bentuk ini
tidak mempunyai garis komando ke bawah. Staff yaitu orang yang ahli dalam
bidang tertentu yang tugasnya memberi nasehat dan saran dalam bidang kepada
pemimpin dalam organisasi.
Kelebihan struktur staff. Pembagian tugas yang jelas antara staff dan anggota
yang lain. Berkembangnya spesialisasi para anggota. Koordinasi di dalam setiap
bagian dapat diterapkan dengan mudah.
Kelemahan struktur staff. Pemimpin staff melampaui kewenangannya. Kesenjangan
sosial antara pemimpin dan anggotanya.
II. 4. 4 Struktur Garis dan Staff
Struktur organisasi ini merupakan struktur organisasi gabungan yang
dikembangkan oleh Harrington Emerson. Struktur ini umumnya di gunakan oleh
organisasi yang besar, daerah kerja luas, bidang tugas yang beraneka ragam dan
jumlah bawahan yang banyak sehingga pimpinan tidak bisa bekerja sendiri,
melainkan memerlukan bantuan staf ahli yaitu orang yang ahli dalam bidang
tertentu yang bertugas memberi nasihat dan saran kepada pimpinan dalam
organisasi tersebut.
Kelebihan struktur garis dan staf. Posisi garis terbebas dari aktivitas khusus
yang dapat diberikan kepada karyawan staf. Fleksibilitas dari personel staf
dapat memudahkan mereka untuk melaksanakan dan menyelesaikan proyek baru dengan
jumlah yang minimum. Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan
dengan mudah.
Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas
pokok organisasi dan kelompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.
Kekurangan struktur garis dan staf. Konflik antara karyawan posisi garis dan
staf sering menjadi masalah. Misalnya, karena karyawan staf terlalu mendominasi
sering kali karyawan posisi garis menghiraukan masukan mereka.
II. 4. 5 Struktur Produk
Struktur ini digunakan jika perusahaan memutuskan produk yang mereka hasilkan
sebagai dasar penetapan atau pembuatan struktur organisasi sebuah perusahaan.
Jenis organisasi ini membagi tugasnya ke dalam dimensi produk. Artinya sebuah
garis koordinasi atau kelompok koordinasi terbagi atas jenis produk yang
dihasilkan oleh organisasi tersebut. Pada masing-masing produk terdapat bagian
atau divisi yang mendukung kesuksesan produk di pasar. Masing-masing produk
akan memiliki divisi pemasaran, SDM, dan produksi sendiri-sendiri.
Struktur organisasi ini muncul sebagai respon atas segmen pasar yang ingin
fokus dikembangkan. Pada akhirnya, perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin
untuk bisa bersaing pada segmen pasar yang dituju. Perusahaan akan
memaksimalkan setiap sumber daya yang ada di perusahaan sehingga bisa maksimal
dalam merancang dan membuat sebuah produk untuk segmen pasar tertentu.
Kelebihan struktur produk. Penanggung jawab dari produk akan sangat jelas,
sehingga fokus kinerja terhadap konsumen lebih jelas dan memuaskan. Struktur
ini baik digunakan untuk perusahaan yang memiliki lini bisnis atau produk yang
bervariasi. Variasi dari jumlah produk yang dihasilkan memerlukan koordinasi
yang tinggi, sehingga struktur ini akan memfasilitasi perusahaan sehingga
masalah koordinasi dalam sebuah produk yang dihasilkan akan mudah
terselesaikan. Selain itu, faktor lingkungan yang berubah dengan cepat juga
akan sangat sesuai jika dihadapi dengan jenis struktur organisasi ini.
Kekurangan struktur produk. Dengan dimungkinkannya tiap divisi untuk berjalan
dengan caranya sendiri dibandingkan dengan struktur lainnya, hal ini dapat
mengakibatkan kegagalan beberapa divisi dalam mencapai tujuan perusahaan.
II. 4. 6 Struktur Matriks
Struktur ini merupakan struktur yang paling baru dari semua struktur organisasi
yang ada dan paling sering digunakan oleh perusahaan yang melakukan proyek
rumit. Struktur ini mengintegrasikan hubungan vertikal dan horizontal dengan
unit lain dalam sebuah proyek.
Kelebihan struktur matriks. Penggunaan struktur matriks memungkinkan perusahaan
mempekerjakan karyawan dengan keahlian tertentu untuk menyelesaikan suatu
proyek yang rumit. Penggunaan struktur matriks juga membantu perusahaan
beradaptasi dengan cepat terhadap segala situasi , karena karyawan dengan
keahlian tertentu dapat dengan mudah direkrut ke dalam proyek.
Kekurangan struktur matriks. Dalam perusahaan yang menggunakan struktur matriks
ini, karyawan mungkin memiliki dua supervisor, manajer dari area fungsional dan
manajer proyek. Tekanan pada karyawan, jika dalam satu waktu individu menangani
beberapa proyek yang berbeda, maka ini akan menjadi beban pikiran baginya.
II. 4. 7 Struktur Campuran (Hibrid)
Jenis organisasi ini merupakan gabungan dari struktur organisasi produk dan
fungsional. Masing-masing produk yang diproduksi memiliki fungsi-fungsi yang
dibutuhkan oleh produk tersebut. Selain itu, organisasi juga memiliki struktur
fungsional yang tetap mengontrol secara terpusat jalannya organisasi.
Salah satu yang dominan dari struktur ini adalah keputusan menjadi tidak
terdesentralisasi, tetapi juga tidak tersentralisasi. Artinya perlu koordinasi
yang tinggi antarfungsi pokok yang dimiliki dan juga struktur yang berada dalam
garis koordinasi produk. Karena sifatnya, jenis organisasi dengan struktur ini
akan mudah beradaptasi jika terdapat perubahan pada lingkungan secara mendadak.
Dua contoh struktur campuran yaitu perusahaan multinasional dan organisasi
jaringan (network).
Perusahaan Multinasional (MNC). Pada tahap perkembangannya yang sangat lanjut
dapat menjadi sebuah organisasi yang sangat kompleks. Tahap tersebut tercapai
ketika organisasi telah mengambil desain struktur yang disebut matriks global
(global matrix). Proses ini biasanya terjadi manakala MNC meluaskan
aktivitasnya ke berbagai negara dalam skala yang tidak dapat ditangani oleh
struktur-struktur biasa.
Struktur ini disebut campuran karena perusahaan-perusahaan lokal yang tersebar
di berbagai benua biasanya tidak persis sama dalam hal desain strukturnya. Kita
barangkali akan menemukan semua ragam desain struktur di sini, mulai dari
struktur sederhana, divisonal, matriks, hingga struktur hibrid .
Struktur Jaringan. Dalam bentuk yang sangat ekstrem, struktur jaringan
menghasilkan apa yang disebut dengan organisasi virtual. Di sini semua
aktivitas organisasi telah habis di-outsourcing. Satu-satunya yang tersisa
dalam organisasi adalah sekelompok kecil eksekutif dan sebuah kantor dengan
beberapa ratus pegawai. Ukuran organisasi yang normal bagi perusahaan-perusahaan
multinasional adalah rata-rata di atas 10 ribu orang, untuk di kantor pusat
saja (Robbins, 1990: 132) . Jadi, pengurangan jumlah hinga tinggal beberapa
ratus orang adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Nike (sepatu), Emerson Radio
(produk-produk elektronik), Schwinn Bicycle (sepeda) adalah contoh-contoh
perusahaan yang mampu menjual produk senilai beberapa ratus juta dollar per
tahun, dengan memiliki sangat sedikit fasilitas produksi atau tidak ada sama
sekali (Robbins, 1990: 346) .
Esensi pekerjaan para eksekutif organisasi virtual terutama adalah melakukan
koordinasi dan mengelola hubungan-hubungan eksternal. Semua hubungan tersebut
bersifat kontrak atau pesanan, sehingga sebagian besar waktu para pengelola
dihabiskan untuk menangani hubungan-hubungan tersebut dan memastikan
kesesuaiannya dengan tujuan organisasi
II. 5 Faktor-faktor Penyebab Perbedaan Struktur Organisasi
1. Strategi Organisasi
Tidak dapat disangkal bahwa terdapat hubungan antara strategi organisasi dengan
struktur yang digunakan untuk mencapainya. Keterkaitan itu lebih mudah dilihat
dalam mengelola sebuah bisnis. Karena keterkaita antara strategi dengan
struktur yang akan digunaka, umumnya suatu organisasi memilih salah satu dari
tiga bentuk strategi yaitu, strategi yang menuntut inovasi, strategi yang
diarahkan kepada minimalisasi biaya atau ongkos, dan strategi yang sifatnya
imitatif.
2. Besar-kecilnya organisasi
Semakin banyak karyawan yang bekerja pada suatu organisasi, makin kompleks pula
organisasi tersebut. Demikian pula dengan pola pengambilan keputusan untuk
kepentingan koordinasi dan pengawasan mengakibatkan makin banyak keputusan yang
diambil oleh kantor pusat organisasi yang bersangkutan.
3. Teknologi yang digunakan
Berbagai studi yang dilakukan para pakar dan ilmuwan yang menunjukkan dengan
jelas teknologi yang digunakan dengan struktur organisasi. Karena keterkaitan
tersebut efektivitas kerja akan ditentukan oleh kesesuaian teknologi dengan
struktur. Tiga kategorisasi yang dapat digunakan sebagai dasar pemikiran ialah kategori
berdasarkan produk, analisis permasalahan, dan sifat teknologi yang digunakan.
4. Kekuasaan dalam Organisasi
Dikaitkan dengan struktur, dapat dinyatakan bahwa baik karena seseorang merasa
bahwa satuan tempatnya bertugas penting maupun karena keinginan untuk memupuk
kekuatan atau kekuasaan. Seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan akan
berusaha agar satuan kerja yang dipimpinnya semakin kompleks.
II. 6 Prinsip dalam Mendesain Struktur Organisasi
Menurut Robbins (2003), Gitlow (2001), dan Cortada (2001), ada enam prinsip
penting yang harus diperhatikan dalam mendesain struktur organisasi :
1. Spesialisasi Pekerjaan
Hal ini didefinisikan sebagai derajat di mana tuga dalam organisasi dibagi
menjadi beberapa pekerjaan. Spesialisasi menjadi terkenal setelah pada awal
abad 20 Henry Ford berhasil mengimplementasikan spesialisasi dan menjadi best
seller pada masanya. Pengulangan tugas yang serupa dalam jangka waktu yang lama
akan meningkatkan tingkat produktivitas dan efisiensi sebuah pekerjaan.
2. Departemenisasi
Unsur ini merupakan dampak yang dari spesialisasi pekerjaan, dengan
mengelompokkan pekerjaan yang serupa dalam satu departeman. Departemenisasi
adalah aktivitas untuk menyusun satuan-satuan organisasi yang akan diserahi
bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu. Fungsi adalah sekelompok aktivitas
sejenis berdasarkan kesamaan sifat atau pelaksanaannya.
3. Rantai Komando
Unsur ini menjelaskan kepada siapa hasil aktivitas (pekerjaan) akan dilaporkan.
Hal ini juga dapat diperluas dengan pertanyaan “Kepada siapa saya harus
bertanggung jawab dan kepada siapa saya harus berkonsultasi, jika terdapat
masalah dalam pekerjaan?”. Ada dua unsur penting dalam menjelaskan konsep
rantai komando, yaitu otoritas dan kesatuan. Otoritas merupakan hak yang melekat
pada posisi manajerial seperti memberikan tugas dan mengharapkan tugas tersebut
dapat dipatuhi dan dijalankan. Kesatuan perintah adalah tiap-tiap pejabat dalam
organisasi hendaknya hanya dapat diperintah dan bertanggung jawab kepada
seorang pejabat tertentu.
4. Rentang Pengawasan
Unsur ini mendeskripsikan berapa jumlah bawahan yang dapat dikelola secara
efisien dan efektif oleh seorang manajer.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi
Sentarlisasi sebagai derajat di mana pembuatan keputusan dipusatkan pada beberapa
jabatan di perusahaan. Desentralisasi adalah pengalihan tanggung jawab dan
wewenang dalam mengambil keputusan dari kantor pusat kepada orang yang
berlokasi terdekat dengan situasi yang membutuhkan perhatian. Dengan
menggunakan desentralisasi, tindakan dapat dilakukan lebih cepat dalam
menyelesaikan masalah, lebih banyak orang yang terlibat di dalamnya, dan
menjadikan karyawan lebih menjadi bagian dari organisasi.
7. Formalisasi
Jika pekerjaan yang ada telah diformalisasi, akan diketahui pekerjaan apa saja
yang harus dikerjakan, kapan harus diselesaikan, dan bagaimana cara
menyelesaikannya.
II. 7 Struktur dan Proses Mempengaruhi Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan teori, metode, dan
prinsip-prinsip dari berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, dan
antropologi budaya untuk mempelajari persepsi, nilai-nilai, kapasitas belajar,
dan tindakan individu ketika bekerja dalam kelompok dan di dalam organisasi
secara keseluruhan, penganalisisan dampak lingkungan luar atas organisasi dan
sumber daya manusia, misi, tujuan, dan strateginya.
Struktur organisasi ialah pola formal tentang bagaimana orang dan pekerjaan
dikelompokkan. Struktur sering digambarkan dengan suatu bagan organisasi.
Proses berkenaan dengan aktivitas yang memberi kehidupan pada skema organisasi
itu. Komunikasi, pengambilan keputusan, evaluasi prestasi kerja, sosialisasi,
dan pengembangan karier adalah proses dalam setiap organisasi.
Tujuan para manajer dalam setiap organisasi ialah mencapai perilaku yang
dikoordinasikan sehingga organisasi tersebut dinilai efektif oleh mereka yang
mengevaluasi hasilnya. Faktor-faktor utama yang menentukan perilaku individu
dan kelompok adalah tugas dan hubungan wewenang. Oleh karena itu, manajer harus
merancang struktur organisasi agar memudahkan komunikasi di antara para
pegawai.
BAB III
PENUTUP
III. 1 Kesimpulan
Organisasi adalah wadah kegiatan daripada orang-orang yang bekerjasama
dalam usahanya mencapai tujuan. Dalam wadah kegiatan itu setiap orang harus
jelas
tugas, wewenang dan tanggung jawabnya, hubungan dan tata kerjanya. Itulah
sebabnya struktur organisasi sangat diperlukan dalam sebuah organisasi yang
baru dibentuk, dalam keadaan berkembang maupun yang sudah mapan.
Perusahaan atau organisasi sering mengubah strukturnya ketika skala usahanya
dan kompleksitasnya semakin besar.
Ada beberapa bentuk struktur organisasi seperti yang telah dibahas dalam Bab II
Pembahasan, setiap struktur organisasi tersebut memiliki kelebihan serta
kekurangannya masing-masing. Namun, harapan setiap organisasi atau perusahaan
tentunya ingin tetap bertahan atau semakin maju.
Struktur organisasi mempengaruhi perilaku organisasi karena faktor-faktor utama
yang menentukan perilaku individu dan kelompok adalah tugas dan hubungan
wewenang. Oleh karena itu, manajer harus merancang struktur organisasi agar
memudahkan komunikasi di antara para pegawai.
DAFTAR
PUSTAKA
Gibson, Ivancevich,
Donnely. 1996. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses Jilid 1 Edisi Kelima.
Jakarta. Erlangga
Kusdi. 2009. Teori Organisasi dan Administrasi. Jakarta: Salemba Humanika
Siagian, Sondang P. 1998. Manajemen Abad 21. Jakarta: Bumi Aksara
Sukoco, Badri Munir. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran. Jakarta:
Erlangga
Sutarto. 1978. Dasar-Dasar Organisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Website :
Di kunjungi pada hari
kamis,16 januari 2014
Waktu mengunjungi : 00
: 47 AM
Nama : Rida Fika
Npm : 16112299
Kelas : 2KA19